Jumat, 13 Desember 2013

#35

Di ujung potongan terakhir cinta ini, yang kusimpan di dalam kotak es di persimpangan dulu...

Rasanya aku telah jauh berlari meninggalkanmu.
Berada diantara bisingnya harap dan mimpi hari.
Sayup-sayub seperti masih kudengar kau memanggilku.
Tapi kau tak tampak lagi.

Mungkin masih ada belenggu hati kita yang rapat terkunci
Hingga kau getarkan dada ini walau hanya dengan suara lirih.

Ingat janji ku, nantikan aku di ujung jalan itu, kita akan bertemu lagi.
Dalam keadaan yang lebih bahagia..
Dan jika saat itu tiba aku akan mengerti kembali arti rindu.

Minggu, 01 Desember 2013

#34

Mari sudahi saja menulis kisah kita. Titik ini adalah simpang terakhir dan kita akan menoreh kisah masing-masing. Waktu buta berjalan tak henti, hanya kitalah yang menanti.

Disini kutinggalkan kotak kenang kita. Kelak orang akan menemukan dan membacanya. Menerka akhir kita.

Namun bawalah senyum itu, bekal perjalanan yang mungkin akan panjang. Diujung jalan itu kepastian indah untuk kita.

Berjanjilah untuk lebih bahagia, ujung jalan itu mungkin pertemuan kita kembali, entah dalam keadaan apa, tapi pasti indah, seindah mimpi yang pernah kita miliki dulu.

Peluk.

Senin, 25 November 2013

#33

BALADA HATI DAN PIKIR

Teh hangat pagi ini masih menemani mereka yang enggan henti berdebat sejak semalam.
Mereka adalah kembar tak serupa. Tumbuh dan dewasa bersama dan menemukan hidup masing-masing.

Kali ini mereka berdebat kusir. Aku hanya tersenyum dan mencari jarak agar tampak jelas geliat mereka. Kali ini tak akan runyam. Kupercaya itu.

Rasa dan logika masih tak sejalan. Alibi-alibi penguatpun disampaikan. Sesekali mereka tertawa bersama, kemudian berpelukan.

Aku juga ikut terkekeh mengingat tak pentingnya masalah ini.
Debat pagi ini diakhiri dengan bertaruh. Masih dalam tawa, kami bertiga: hati, pikir dan jiwa.

Kali ini bukan tentangmu sayang, ini tentang komedi yang kami lihat dengan cara kami masing-masing. Entah kau juga akan tertawa jika dapat melihatnya.
Kali ini bukan tentangmu sayang, tapi kenang tentangmu masih tersimpan rapi. Kami mencoba berdamai saja.

Hangatnya teh pagi ini masih dengan sedikit gula.

Sabtu, 16 November 2013

#32

Pinjami aku senyummu sebagai kekuatan bagi hari-hariku. Hingga kau lihat senyumku adalah bagian dari hadirmu. Sepotong cinta bagi hidup damai. Sebentuk hati yang diam menerima kehendak takdir. Hidup tak akan sepahit kita pikir. Rentang tangan, peluk dari jauh. :)

Jumat, 15 November 2013

#31

Teh hangat pagi ini agak pekat, sepekat rindu yang sekuat hati kubuat bisu.
Kau tau, waktu berlalu dan menerbangkan jiwaku pada langit ketiga, sementara hati tertinggal di bumi. Menjelajah mencari nafasmu.
Doa-doa itu telah menerbangkanku setinggi awan, tak ingin lebih dari itu tanpamu. Sebab jika jatuh nanti tak akan ada yang menantiku.

Senandung pagi yang dingin ini untukmu, untuk kesekian kali tak mampu kebendung. Kubuntal rindu, kulempar bersama angin.

Kamis, 03 Oktober 2013

#30

Tenanglah tuan, tak ada murka itu. Sepercik cinta terlanjur luruh padamu. Ia mengalir ke samudra. Satu hari awan akan membawanya kembali padaku.
Tenanglah tuan, tak ada janji yang harus dilunasi. Tak ada dendam yang disemati, bahkan tak ada tanya dalam hati walau tak sepenuhnya mengerti.
Kenakan sayap itu, terbanglah pada cakrawamu.
Bagiku tanah inila surga kini. Tempat hujan mendendangkan rinainya pada satu musim. Dan aku akan menari di tengah gemuruh.
Entahlah jika kau masih diatas sana, meleburkan titik air ke bumi.

Kamis, 12 September 2013

#29

Entah kenapa, kini mengenang kisah-kisah itu bisa sambil tersenyum.
Rentang saat pertama kali bertemu, kusebut namaNya dan tertunduk dalam.
Dan cerita di naskah itu berlanjut sampai saat ini. Masih kusebut asmanya dengan tertunduk dalam, saat kurasa peran ini tak sanggup kulakonkan. Tapi dia menatap lalu mengangguk, memberi isyarat untuk tetap melanjutkan... Ia tau aku akan selesaikan semua cerita ini dengan baik. Sebaik materi-materi yang pernah Ia berikan padaku.

Kamis, 05 September 2013

#28

Kita berseloroh tentang naskah hidup. Aku tersentak diam-diam. Rencanaku, inginku, mimpiku adakah telah tertulis di dalamnya? Adakah aku yang telah lancang melajukan alur? Atau memang inilah sesungguhnya naskah hidupku. Sutradara memberikannya dan aku diperbolehlan melakukan sesuatu, tapi tetap akhir cerita dia yang kuasai. Sungguh, kita hanya tinggal menurutinya... itu saja. Lalu senyumku mengembang, diam-diam juga. Bukankah setiap alur kisah naik turun dan selalu ada kisah indah?

Selasa, 13 Agustus 2013

#27

Kepada cinta yang pernah membuatku menyala, yang kini tengah kujaga sisa hangatnya.
Kepada cinta yang pernah mengirim nyawa kedua dan mengambil paksa tiba-tiba.
Kepada cinta yang enggan beranjak dari sarangnya, ia terlalu lelap pada musim berdiam yang panjang.
Kepada cinta yang mungkin telah lebur karena terlalu erat kugenggam.

Kutitipkan pada sang maha..

#26

Pagi ini misteri itu mengetuk lagi di pintuku. Ia membelai air mataku, Seraya berbisik: "tak harus kau tau tentang aku, karena tak akan mati rasamu. Tak harus kau mengerti jika tak mampu, karena luka terlalu perih, rasa terlalu dalam. Menarilah pada irama ganjil kemarau ini yang memberi harmoni baru. Lalu hentakkan inginmu pada doa-doa yang semakin menajam. Pada mata yang basah.
Tak harus kau tau tentang aku, tentang cinta yang entah bila berlabuh."

Ia melambai tangan, pergi tanpa menyentuh sajian teh hangatku.

Senin, 05 Agustus 2013

Cut!! INTERMEZZO..


Hehe, iya. Intermezzo dari kata-kata minimalis “cup of tea stories”. Karena waktu itu saya nyaris bisu. Tapi kali ini saya membawa satu bahasa: “HARU”
Ini tentang paruh pertama pada tahun saya, Febuari sampai Juli.  Saya sangat ingin meninjau kembali dengan rasa syukur.
6 bulan yang penuh warna. Kalau boleh memaknai, warnanya didominasi oleh warna cerah. Ada beberapa yang muram, tapi itu merupakan aksen, menambah cantiknya lukisan besar paruh pertama.
Saya teringat apa yang saya tanam di hati dan pikiran pada awal periode. Sejak dini bersemangat dan menaruh harapan besar di tahun ini. kegembiraan pada hal-hal kecil yang berefek domino dan belum berhenti sampai saat ini. keyakinan yang besar dan keinginan untuk mencapai sesuatu yang lebih besar. Bersemangat yang entah dari mana datangnya.
Maka itulah yang terjadi, banyak hal menyenangkan terjadi. Saya bahkan tak sanggup menyebutkan satu-satu. Kalaupun ada kesedihan, terjungkal, tapi tak membuat saya terjatuh. Saya makin menambah kecepatan berlari, terus dengan keyakinan awal.

Hukum tarik menarik itu benar-benar ada Sebagaimana adanya Tuhan, karena Tuhan pula yang memungkinkan “The Law of Attraction” itu ada, Alloh menjaminnya. "Siapa yang bersyukur maka aku tambah nikmatnya". "Aku bagaimana sangkaan hambaKu". Subhanalloh. Sudah sering terjadi sebenarnya, tapi saya tidak menyadari pola-pola ajaib itu. Mungkin semua tidak akan semudah kata-kata, tapi dengan semangat dan keyakinan, roda akan terus bergerak. Katakan pada hati, jangan biarkan roda itu berhenti, tidak satu detikpun! Katakan pada jiwa: berlarilah, tujuan semakin dekat!

Maka paruh kedua tahun ini, Agustus- Januari, akan begitu pula. Bingkai-bingkai telah ada. Tinggal kemampuan dan keinginan untuk melukisnya, menjadikan satu lukisan besar lagi di paruh kedua ini. lukisan indah, warna optimis. Cinta akan menemukan bentuknya disini. *tapa* @melsunrise

Minggu, 07 Juli 2013

#25

Mungkin memang harus begitu, saatnya cinta diam dalam kekuatan harapan dan dalamnya rasa. pada saatnya nanti cinta akan menemukan kata yang lebih nyata. 
Mungkin benar kita masih harus menunggu waktu-waktu itu. Bukankah hakikat hidup adalah menunggu segala? sambil berjalan mencari jawab atas tanya, lalu biarkan jawab itu berlabuh pada saatnya. saat semua terwujud atau hilang sama sekali.

Minggu, 23 Juni 2013

#24

Musim ini begitu membingungkan. tak mengerti kemana arah angin dan gerak awan. berharap sinar matahari tak terlalu berdebat dengan hujan. biru langit berkawan dengan kelabu. dan akupun tak tahu dimana harus menyimpan rindu.

Kamis, 06 Juni 2013

#23

Aku cemburu pada waktu. Menderu biru. Ya, memang begitulah.
Kau mencumbunya, sedang aku berada di ujung kerinduan. Selangkah lagi aku akan terperosok dalam kehampaan.
Aku cemburu pada waktu yang merebut hari terik dengan tetes hujan.

Aku cemburu pada waktu yang membulatkan bulan lalu menggantung di depan jendela. Sementara semua orang memuja jingganya.

Aku cemburu, menderu biru. Dan tak ada lagi lagu malam pelelap tidurku.

Senin, 03 Juni 2013

#22


Entahlah, mungkin metafora-metafora itu terlalu melekat. Mereka menemaniku hatiku, tunduk pada semesta jiwa. Penyampai pesan, telinga bagi hati.
Entahlah tentang matahari pagi. ia adalah awal nafasku. Saksi keberadaanku di sisi cinta.
Entahlah tentang langit dan awan. Mereka adalah cakrawalaku. Tanpamu aku akan jauh terbang bersama mereka.

Entahlah tentang jiwa. Tapi satu saat kau akan datang dan disambut sejuta cinta yang tak pernah mati. Hanya untukmu, begitulah amanat syurga padaku.

maka peganglah tanganku, bawa aku pulang.

Senin, 27 Mei 2013

#21


Pada satu waktu kita senandungkan lagu ini dengan hati:
“jauh sudah aku berjalan, rasakan pahit rasakan manis. Rasakan gelap, rasakan terang. Sampai kulupa jalan pulang, tinggi aku terbang semakin tinggi, lewati awan hampa udara. Hingga ku lelah hingga ku jatuh.
Tapi aku harus bertahan hidup.

Tolonglah, tolonglah.. tunjukan jalan, ke rumahku. Tolonglah, tolonglah.. beri udara tuh nafasku...
Siapa yang akan menolongku, pegang tangan ku bawa ke rumah ku...
Rasakan kasih, rasakan sayang. Hangat pelukan, hangat sentuhan. Ada teh hangat dan roti bakar bantal yang empuk, kasur nan lembut.
Ada larangan ada aturan, tatapan mata penuh curiga. Gorden yang cantik dapur yang unik, dan anak kecil panggilku ibu dan seorang pria ucapkan salam: “selamat pagi..”

aku jadi rindu rumah” ( Rumahku, Oppie Andaresta)


Melantunkan bait terakhir dengan mata terpejam, melambungkan doa-doa.

kemudian kau menemukannya dan aku masih disini.

Minggu, 26 Mei 2013

#20


Hey, taukah kau, bunga-bunga di teras atas telah bersepakat merekah bersama. Mereka menggoda langit kelabu hingga hujan enggan rebah. Berusaha menarikku untuk menari bersama, menggoda senyumku diantara sendu. Ada apa ini? 

Jumat, 24 Mei 2013

#18


#18
Dan jika hari itu datang, pada satu pagi yang dingin. Ketahuilah bahwa cinta telah menghidupiku, tak pernah ternodai. Namun  cinta abadi telah memanggilku. Dan kutunggu kau disana...


#19
Aku masih layang-layangmu yang tengah meliuk indah dalam tatapan pesonamu. Tapi musim sedang tak bersahabat. Sesaat badai dan rinai kan melukaiku. Tariklah aku ke bumi, letakan di sudut ruangmu. Aku tak keberatan jika harus menunggu musim cerah lagi.  menunggumu...

Kamis, 16 Mei 2013

#17



Terjaga dini kali ini karena tak sanggup menunggu cahaya lebih lama lagi. mungkin tak harus denganmu memulai semua yang meradang di kepala. Mungkin gelap bisa menyelesaikan sedikit yang harus disingkirkan hari ini. dan aku makin merindumu. Makin... sehingga tak sanggup menunggumu muncul di cakrawala, Memeluk mayamu dengan mata terpejam

Sabtu, 04 Mei 2013

#16


#16
Tiba-tiba bingkai retak. Lukisan pagi memburam. Aku meraba dan tak ada sisa rona warna. Seperti dibenamkan dalam-dalam pada kekacauan pikir. Merasa tanpa daya karena tak ada yang bisa dipercaya, bahkan hati sendiri. Berusaha berdiri diantara mereka dengan tegak. Tetap menemukan bahwa aku benar-benar sendiri.

Rabu, 17 April 2013

LAMUNAN PAGI DAN SECANGKIR TEH @melsunrise (3)


12
Malam dan keluh, kedua sahabat melafaz doa. Mencoba membebaskan pikir dari sekat pola. Meredam amarah dari luka. Mengendap benci jadi iklas. Tuhan sedang merentangkan tangan untuk memeluk kita. Mendekatlah... semua akan kembali ke wujud semula.

#13
Yang nampak lebih nyata dari kata, keduanya tidak lebih nyata rasa. Kekuatan hati dan keyakinan langkah, bersahabatlah..
#14
Menjelajah dimensi tak ternamai, menemukan bahwa hati memiliki logika sendiri, tak terbantahkan, maka menyerahlah.

#15
Senandung Bunga Rumput Liar seperti terdengar lagi dari kejauhan. Dibawa angin dari sebuah bukit, di sebidang kebun di tepi danau. Di sudut kebun  telah ditandur benih bunga matahari dan kelak kau akan menari diantara kekuning rekahnya pada 1 Juli, oleh Sang belahan jiwa, cinta yang sempurna. Anak-anak kecil bernyanyi bersamamu. Menelusuri telaga pada pagi yang damai.  Lalu kau mengalunkan lagi:”oh, jauh sekali rumahmu, kangen...rindu...”

Kemudian lamunanku beralih pada sebuah rumah kayu, dibalik bukit. Lelaki dan anak kecil tenga asik bermain layangan di belakangan rumah. Perempuan yang berkuasa atas dapur dan tungkunya memandang dengan senyum. “Sebentar lagi mereka akan mencuri tempe goreng ku...”
Lalu ia meninggalkan dapur sebentar. Mengintip dan ingin menangkap basah aksi mereka, lalu diakhiri dengan tawa bersama: “mari makan, sayang...”

surga... dimana kau berada?

tehpun kian dingin dalam lamunanku.

Jumat, 12 April 2013

LAMUNAN PAGI DAN SECANGKIR TEH @melsunrise (2)


#5
Dan pagi tetap akan datang tanpa persetujuan kau yang enggan beranjak dari kemuraman. Janji matahari pasti setia sampai akhir dunia. Janji kitalah yang kerap bermain-main dengan nurani. Teh hangat pagi ini melesap manis,  mari rasakan setiap detiknya pagi yang padat ini.
#6
Yang menakjubkan adalah sapa “selamat pagi” betapa semangat itu menular dan membangunkan syaraf-syaraf untuk bersigap, lebih cepat. Selamat menjemput rejeki... J
#7
Malam adalah jembatan dan kita telah berada di awal hari.  Yang terendap kini terurai, yang gelap kini tersinari. Yang lelah kini bangkit lagi. yang muram harusnya berwarna lagi. secangkir teh hangat agak telat hari ini, masih menunggu tungku memanaskan air. Tapi senandung pagi tetap menggegaskan gerak. Mari lukis hari, hari ini mungkin akan jadi penting bagi catatan sejarah.
#8
Perempuan itu datang dan berkisah padaku, bagaimana ia bersandar pada semu. Pikirnya, mungkin saja satu waktu nanti kau berikan hatimu padanya. Jika waktu itu benar datang barulah ia pikirkan balas apa yang pantas untukmu. Kini biarlah semestanya bersandar pada semu. Membungkus luka-luka yang pernah ada. Melewati pagi dan malam tanpa harus bertanya.
#9
Dan rindu itu kembali bisu, seperti malam-malam yang membawa kita pada sunyi dan mimpi.
Dimanakah langit biru itu kini? Bukankah ia tak pernah gentar meski dihadang kelabu?

#10
Betapa doa-doa yang kau lafazkan siang dan malam sampai kesini, menambah asupan tenaga dan memberi keberanian untuk melangkah lagi. betapa hari tak akan sia-sia.
#11
Senandung pagi ini merentang kenang. Bercampur seperti  teh yang sedikit pahit dan manisnya madu dalam cangkir. Merasakan resapnya dengan hangat di tenggorokan. Merasakan hadirnya sisipan cerita satu babak baru...

Sabtu, 06 April 2013

LAMUNAN PAGI DAN SECANGKIR TEH @melsunrise


#1
Lamunan secangkir teh hangat pagi adalah tentang awan kelabu dan penantian cahaya di cakrawala. Cinta memang begini

#2
Dan esok itu akhirnya datang juga, setiap penantianpun menemui harinya. Geliat-geliat harapan merebut hari mau tak mau dihidupkan. Lalu kita? Masih menanti tetanda kapan harus melangkah? Ah, sudahlah.. waktu terlalu bermakna untuk disia-siakan. Mimpi makin tinggi setiap malam, kalau gerak disigapkan mau jadi apa gunungan itu nanti?

#3
Secangkir teh hangat pagi ini disambut dongeng pagi bertabur doa. Selamat pagi, selamat menjeput hari, berlari lagi bersama matahari.

#4
Secangkir teh hangat bermadu dan secarik kertas coretan tentang rencana. Selamat pagi, ada harap disana?