Senin, 27 Mei 2013

#21


Pada satu waktu kita senandungkan lagu ini dengan hati:
“jauh sudah aku berjalan, rasakan pahit rasakan manis. Rasakan gelap, rasakan terang. Sampai kulupa jalan pulang, tinggi aku terbang semakin tinggi, lewati awan hampa udara. Hingga ku lelah hingga ku jatuh.
Tapi aku harus bertahan hidup.

Tolonglah, tolonglah.. tunjukan jalan, ke rumahku. Tolonglah, tolonglah.. beri udara tuh nafasku...
Siapa yang akan menolongku, pegang tangan ku bawa ke rumah ku...
Rasakan kasih, rasakan sayang. Hangat pelukan, hangat sentuhan. Ada teh hangat dan roti bakar bantal yang empuk, kasur nan lembut.
Ada larangan ada aturan, tatapan mata penuh curiga. Gorden yang cantik dapur yang unik, dan anak kecil panggilku ibu dan seorang pria ucapkan salam: “selamat pagi..”

aku jadi rindu rumah” ( Rumahku, Oppie Andaresta)


Melantunkan bait terakhir dengan mata terpejam, melambungkan doa-doa.

kemudian kau menemukannya dan aku masih disini.

Minggu, 26 Mei 2013

#20


Hey, taukah kau, bunga-bunga di teras atas telah bersepakat merekah bersama. Mereka menggoda langit kelabu hingga hujan enggan rebah. Berusaha menarikku untuk menari bersama, menggoda senyumku diantara sendu. Ada apa ini? 

Jumat, 24 Mei 2013

#18


#18
Dan jika hari itu datang, pada satu pagi yang dingin. Ketahuilah bahwa cinta telah menghidupiku, tak pernah ternodai. Namun  cinta abadi telah memanggilku. Dan kutunggu kau disana...


#19
Aku masih layang-layangmu yang tengah meliuk indah dalam tatapan pesonamu. Tapi musim sedang tak bersahabat. Sesaat badai dan rinai kan melukaiku. Tariklah aku ke bumi, letakan di sudut ruangmu. Aku tak keberatan jika harus menunggu musim cerah lagi.  menunggumu...

Kamis, 16 Mei 2013

#17



Terjaga dini kali ini karena tak sanggup menunggu cahaya lebih lama lagi. mungkin tak harus denganmu memulai semua yang meradang di kepala. Mungkin gelap bisa menyelesaikan sedikit yang harus disingkirkan hari ini. dan aku makin merindumu. Makin... sehingga tak sanggup menunggumu muncul di cakrawala, Memeluk mayamu dengan mata terpejam

Sabtu, 04 Mei 2013

#16


#16
Tiba-tiba bingkai retak. Lukisan pagi memburam. Aku meraba dan tak ada sisa rona warna. Seperti dibenamkan dalam-dalam pada kekacauan pikir. Merasa tanpa daya karena tak ada yang bisa dipercaya, bahkan hati sendiri. Berusaha berdiri diantara mereka dengan tegak. Tetap menemukan bahwa aku benar-benar sendiri.