Pada satu waktu kita senandungkan lagu ini dengan hati:
“jauh sudah aku berjalan, rasakan pahit rasakan manis. Rasakan gelap, rasakan terang. Sampai kulupa jalan pulang, tinggi aku terbang semakin tinggi, lewati awan hampa udara. Hingga ku lelah hingga ku jatuh.
“jauh sudah aku berjalan, rasakan pahit rasakan manis. Rasakan gelap, rasakan terang. Sampai kulupa jalan pulang, tinggi aku terbang semakin tinggi, lewati awan hampa udara. Hingga ku lelah hingga ku jatuh.
Tapi aku harus bertahan hidup.
Tolonglah, tolonglah.. tunjukan jalan, ke rumahku. Tolonglah,
tolonglah.. beri udara tuh nafasku...
Siapa yang akan menolongku, pegang tangan ku bawa ke rumah
ku...
Rasakan kasih, rasakan sayang. Hangat pelukan, hangat
sentuhan. Ada teh hangat dan roti bakar bantal yang empuk, kasur nan lembut.
Ada larangan ada aturan, tatapan mata penuh curiga. Gorden
yang cantik dapur yang unik, dan anak kecil panggilku ibu dan seorang pria
ucapkan salam: “selamat pagi..”
aku jadi rindu rumah” ( Rumahku, Oppie Andaresta)
aku jadi rindu rumah” ( Rumahku, Oppie Andaresta)
Melantunkan bait terakhir dengan mata terpejam, melambungkan
doa-doa.
kemudian kau menemukannya dan aku masih disini.
kemudian kau menemukannya dan aku masih disini.